Mentawai-Wanita

Image

Wanita Mentawai adalah sosok yang kuat. Dalam pembagian tugas secara budaya mereka bertanggungjawab mengasuh anak-anak, mengurus suami, mertua, semua ipar dan anggota uma suaminya, Itu berarti pekerjaan seperti memasak, memandikan anak, mengambil air, mengurus ladang keladi, membantu di pusaguat (tempat pengolahan sagu), mencari ikan, memberi makan hewan peliharaan,mencuci baju dan piring, serta banyak lagi tetek bengek pekerjaan rumah tangga. Karena itu, wanita Mentawai bangun paling cepat–pukul 05.00-an sudah memasak–dan tidur paling lambat–bisa pukul 24.00 baru bisa tidur.

ImageDi Matotonan wanita Mentawai yang belum menikah disebut sioko’, sementara yang sudah kawin dipangggil kalabai. Aku lupa apa sebutan untuk janda. Seperti para lelaki yang sejak kecil sudah diakrabkan dengan panah, sejak kecil sioko sudah diperkenalkan dengan tangguk. Aku lupa apa namanya. Ini terkait kewajiban mereka setelah dewasa nanti, yakni menangkap ikan, mendapatkan lauk untuk makanan.Image

Kalau Anda ke pedalaman, di sepanjang sungai Anda akan menemukan banyak wanita sedang menangguk ikan di sungai. Mereka berkelompok, dari yang tua sampai anak-anak, dengan sebuah tabung bambu tersampir di punggung, tempat ikan dan udang tangkapan mereka disimpan. Lokan tidak disimpan dalam tabung itu, kulitnya yang keras membuat dia lebih cocok ditumpuk di dasar perahu.

Mencari ikan, udang dan lokan adalah happy hours, mereka melakukannya sambil bernyanyi riang atau bersenda gurau, mandi-mandi, perang-perangan air dan berenang. Karena itu mereka harus akrab dengan sampan, sarana transportasi yang mereka gunakan untuk menuju lubuk-lubuk yang dikenal memiliki banyak ikan, udang dan lokan. Image

Gette atau ladang keladi adalah tempat umum lainnya untuk menemukan wanita Mentawai. Setiap hari ada saja yang mereka kerjakan. Membersihkan tanaman keladi dari rerumputan atau memanennya untuk dibawa pulang. Keladi adalah makanan pokok mereka selain sagu dan pisang,  Keladi merupakan salah satu mas kawin yang sangat penting.

Ladang magok–pisang–adalah tempat nyaman lainnya. Tapi mereka jarang ke sini. Hanya ketika ada pohon pisang yang hendak ditebang saja karena buahnya telah matang. Di luar waktu itu pisang hanya disilau-silau sekilas dalam perjalanan pergi dan pulang menangguk.

Untuk bisa menikahi wanita Mentawai, seorang lelaki harus berkecukupan. Dia harus punya paling tidak sepetak ladang keladi, beberapa rumpun pisang, beberapa batang pohon kelapa, pohon mangga, pohon durian, sebuah sampan, sebuah kuali besar, sebuah periuk atau panci besar, sebilan parang, beberapa lembar kain panjang, sejumlah uang, beberapa ekor babi dan ayam dan banyak lagi persyaratan.

ImageMengapa begitu banyak? Soalnya pihak keluarga perempuan harus melepas putrinya untuk selamanya. Wanita Mentawai yang menikah menjadi anggota uma suaminya. Mereka harus meninggalkan sukunya.

Sekarang setelah arat sabulungan ditinggalkan, dan berbagai agama samawi seperti Katolik, Protestan dan Islam dianut, aturan semacam ini tak diikuti lagi. Mas kawinnya mungkin masih, tapi ketentuan-ketentuan lainnya sudah berubah. Anak perempuan tetap menjadi bagian keluarga selamanya, setelah menikah atau menjadi janda. Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s