Mentawai–Tulou

ImageSetiap suku bangsa (etnik) punya aturan atau norma sendiri. Aturan yang terkonklusi dalam adat ini merupakan konsensus yang mereka sepakati bersama untuk menciptakan dan menjaga harmoni kehidupan dalam komunitas etnik tersebut. Pada suku bangsa yang lebih terstruktur norma itu dibakukan dalam apa yang disebut hukum adat. Aku bukan ahli hukum adat. Aku hanya akan menceritakan aturan adat yang kulihat selama aku berinteraksi intensif dengan orang Mentawai.

Setiap adat dijaga dengan sanksi sosial. Di Mentawai–paling tidak di Siberut Selatan–sanksi adat tersebut dinamakan tulou (denda). Apa saja aturan atau kesepakatan adat yang kau langgar maka kau akan ditulou sebagai ganjaran. Tujuannya sama saja dengan sanksi hukum lainnya yakni untuk memberi efek jera agar seseorang tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum tersebut.

Orang Mentawai tak rumit-rumit. Kau rusakkan sampan tetangga kau ditulou, kau ganggu atau berzina dengan istri tetangga atau istri saudara kau ditulou, kau curi babi atau ayam orang kau ditulou, kau aniaya anak tetangga kau ditulou, begitu seterusnya. Tak banyak ribut-ribut. Yang salah mengaku salah dan membayar tulou, maka kehidupan sosial kembali berjalan normal.

Nilai tulou berbeda-beda. Aku tidak tahu pelanggaran apa yang nilai tulounya paling besar. Mungkin memperkosa dan membunuh adik istri seperti pernah terjadi di Pagai Utara beberapa tahun silam. Selingkuh dengan istri saudara tulounya juga besar seperti pernah terjadi di Siberut Utara beberapa kali. Waktu aku di Saliguma–kinimasuk Kecamatan Siberut Tengah–ada warga yang harus membayar tulou berupa 3 ekor babi, 5 ekor ayam, beberapa batang kelapa, mangga, durian, sagu, beberapa rumpun keladi, parang, kuali, kulit penyu, periuk, piring, geklas, sendok dan sejumlah uang karena menggoda istri orang.Image

Ya, dendanya berupa harta benda si pelanggar. Denda itu dijatuhkan setelah kedua belah pihak bernegosiasi dalam sebuah pertemuan mirip sidang. Kalau sudah disepakati si pelanggar harus membayar semua tulou itu tanpa neko-neko lagi. Kalau seseorang menolak membayar tulou situasi bisa memburuk. Keluarga besar yang dilanggar bisa menyatakan perang kepada keluarga besar pihak yang melanggar. Panah beracun pun akan disiapkan kalau ini terjadi. Syukurlah hal semacam itu jarang terjadi, karena orang Mentawai lebih suka harmoni, bukan seperti orang Dayak atau Papua yang memang suka berperang untuk menambah kekuatan suku masing-masing dengan roh-roh musuh yang meeka bunuh.

Orang Mentawai juga menerapkan tulou itu itu pada sasareu (orang asing) yang bermasalah dengan mereka.  Di Matotonan beberapa tahun sebelum aku datang, ada anak buah pencari manau dari Padang yang ditulou gara-gara main mata dengan istri warga desa. Semua barangnya seperti tas, ransel, sleeping bag, matras, kamera, jaket, sepatu, sandal, topi, kemeja, celana panjang, rokok dijadikan sitaan tulou. Dia balik ke Muara Siberut hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Untung ada majikannya yang meminjamkan baju, tapi dia harus menanggung malu dari hulu sampai muara, karena cerita seperti itu cepat sekali menyebar.

Sampai aku memimpin Tabloid Puailiggoubat (2008 – 2012) sistem tulou ini masih diberlakukan di banyak tempat di Mentawai. Salah satunya di Muara Sikabaluan, ketika Kepala Desa Muara Sikabaluan ketahuan selingkuh dengan istri kakaknya. Tapi tak ada gejolak. Setelah tulou dibayar keluarga besar itupun rukun kembali seperti sedia kala.

Yang lucu adalah kisah pencurian yang sampai ke polisi. Karena mencuri mesin pompong tetangganya seorang pemuda di Siberut Utara–aku lupa dusunnya–dilaporkan ke polisi dan ditangkap. Keluarganya kemudian menyelesaikan persoalan tersebut dengan membayar tulou kepada keluarga besar korban pencuran. Tapi anaknya tetap diproses dan masuk surat kabar.

Nah, orang tua dan keluaga besarnya mencoba menulou wartawan Puailigoubat di Muara Sikabaluan  karena dianggap bersalah memberitakan kasusnya. Mereka beralasan wartawan kami tak seharusnya memberitakan hal itu karena masalahnya telah mereka selesaikan. Tentu saja kami menolak klaimnya, karena itu kasus pencurian yang telah sampai ke tangan polisi. Persoalannya bukan lagi persoalan antara uma mereka berdua, tapi sudah menjadi masalah kriminal yang melanggar hukum formal negara dan publik berhak tahu. Mereka bersungut-sungut kaena tidak bisa menulou kami.

Di Madobag, Siberut Selatan, tahun 2011 juga pernah terjadi kasus pencabulan terhadap anak SD berusia 8 tahun. Tapi orang tuanya tidak melapor ke polisi. Pelakunya hanya ditulou dengan sejumlah babi, ayam, pohon durian, sagu, mangga, ladang keladi, parang, kuali, periuk, piring dan gelas. Masalah selesai. Begitulah.Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s