Mentawai–Rourou

ImageRourou atau panah adalah alat berburu utama di Mentawai. Meskipun orang Mentawai kadang-kadang juga menggunakan parang dan tombak, tapi panah lah yang selalu mereka bawa berburu. Lagipula panah merupakan produk asli kebudayaan mereka, sedangkan parang dan tombak diperkenalkan oleh Belanda dan sasareu (orang jauh, orang asing) lainnya dari daratan Sumatera sejak 200 tahun silam.

Panah Mentawai terdiri dari beberapa bagian yakni busur, tali busur, tabung wadah anak panah, tali tabung, dan anak panah itu sendiri. Busur terbuat dari sejenis kayu yang liat dan kuat. Juga sangat lentur. Aku lupa namanya, tapi ingat bahwa kayu itu berwarna hitam atau coklat kehitam-hitaman dan mengandung sedikit minyak, sehingga selalu tampak berkilat dan berkilau bila diterpa cahaya. Busur itu berdiameter 5 milimeter sampai 2 sentimeter. Bagian tengah adalah yang paling besar diameternya. Panjangnya mencapai 2 meter. Aku telah melihat film dokumenter tentang suku Masai dan suku San di Afrika di National Geography Channel, mereka juga berburu, tapi panah mereka kalau keren dengan panah orang Mentawai.

Tali busur panah Mentawai juga kuat dan lentur. Terbuat dari sejenis kulit kayu yang aku juga lupa namnya–maklum sudah hampir 30 tahun kutinggalkan–tapi samar-samar aku ingat bahwa tali itu dijemur sampai kering sebelum dijadikan tali busur. Aku lupa disebut apa tali busur ini, seperti aku lupa apa sebutan orang Mentawai–terutama di Matotonan–untuk busur.Image

Tabung anak panah disebut ogbug. Entah mengapa aku ingat yang ini, semoga tidak salah. Ogbug merupakan tabung silinder yang terbuat dari bambu sepanjang kira-kira 50 sentimeter. Diameternya antara 6 – 8 sentimeter. Ogbug ini dilengkapi tali yang saat berburu disampirkan ke bahu. Talinya yang juga terbuat dari kulit kayu harus kuat, karena ogbug sering terbanting-banting ketika dibawa berlari mengejar hewan buruan.

Setiap berburu sekitar 40 anak panak panah dibawa dalam ogbug. Ada macam-macam bentuk dan kegunaan anak panah. Bobokuk misalnya adalah anak panah bermata kayu tumpul mirip alu atau ulekan berdiameter 2 sentimeter. Gunanya untuk memanah burung atau ayam hutan hidup-hidup.

Selain bobokuk ada anak panah biasa, dengan mata panah terbuat dari kayu yang diruncingkan dan diulir. Aku tidak ingat bagaimana mereka meruncingkan kayu tesebut, yang pasti semua mata panah itu sama runcingnya dan sangat simetris. Aku tak melihat alat bubut atau semacamnya digunakan untuk membuat mata anak panah. Anak panah ini digunakan untuk berburu burung dan ayam hutan juga, cuma yang diburu pakai anak panah ini lebih untuk dikonsumsi, jadi mati pun tak apa. Mata panah ini ada yang dibiarkan polos, ada pula yang diolesi racun. Tergantung keperluannya.

Anak panah yang khusus untuk berburu joja (monyet, kera), bilou (siamang), bokkoi (beruk, monyet ekor pendek) dan simakobuk (sejenis monyet atau kera juga, mungkin mirip dengan simpai kalau di daratan Sumatera Barat), disebut tunung dan terbuat dari lempeng kuningan yang diruncingkan dan ditajamkan. Tunung juga dipakai untuk memanah monyet, babi hutan atau rusa. Biasanya tunung ini dilumuri racun untuk melumpuhkan hewan buruan lebih cepat, agar mereka tidak repot mencari-cari mayatnya. Racun ini bisa melumpuhkan hewan buruan dalam 5 menit setelah terpanah, tapi kalau sampai 30 menit kena panah beracun itu hewan buruan biasanya mati dengan tubuh membiru atau menghitam dan mulut mengeluarkan busa seperti penderita epilepsi.

Mungkin Anda kesal, tapi sungguh aku juga lupa dari apa racun panah orang Mentawai dibuat dan bagaimana proses pembuatannya. Maklum sudah 30 tahun silam. Rasanya mereka menggunakan bisa hewan-hewan beracun seperti ular, kalajengking, kelabang atau kodok yang dicampur dengan racun dari bagian-bagian tanaman beracun seperti akar, kulit batang, daun atau buah. Bahan dasar racun itu ditumbuk atau diulek sampai halus, lalu disaring dan dioleskan ke mata anak panah. Aku tidak ingat apakah semua bahan itu dijemur dulu atau tidak, tapi kalau tidak salah anak panah yang telah dilumuri racun biasanya dijemur atau disangai (dipanaskan) dekat api sampai melekat sempurna. Entah berapa hari proses pembuatan racun panah ini, namun yang jelas selama membuat racun panah dan mengoleskannya ke mata anak panah si pembuat tidak boleh mandi, berhubungan seksual dan memakan makanan tertentu, terutama ikan lajo atau ikan panjang. Kalau pantangan ini dilanggar dipercayai racun panahnya takkan mangkus.

Anak panah itu sendiri panjangnya sekitar 50 – 60 sentimeter. Terdiri dari dua bagian, pangkal dan ujung. Pangkalnya terbuat dari sejenis rumput tinggi atau gelagah yang banyak tumbuh d tepi sungai. Batang ini dipotong-potong sama panjang sekitar 30 sentimeter lalu dijemur sampai kering. Di atasnya dibuat sambungan untuk menyatukannya dengan bagian ujung yaitu bagian yang merupakan mata anak panah. Bagian ujung ini terbuat dari kayu yang diruncingkan. panjangnya sekitar 20 sentimeter.

Aku pernah berpikir mengapa orang Mentawai tak menggunakan bambu saja untuk bagian pangkal anak panahnya, tapi kemudian aku sadar mereka pasti sudah mempertimbangkannya dengan seksama, mengapa harus mengunakan bahan yang lebih ringan untuk pangkal anak panah. Itu bagian dari ethnoscience, pengtahuan tradisional mereka, yang didapat lewat proses panjang dan telah diwarisi secara turun-temurun selama berabad-abad! Jadi aku tak pernah menanyakannya.

Lelaki Mentawai harus memiliki panah sendiri dan bisa memanah. Karena itu kewahjiban tradisi dan sudah menjadi perannya dalam budaya. Dan bagaimana hal itu diwariskan? Mereka sudah diberi panah sejak masih balita!Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s