Mentawai–Ka Rattei

Rattei adalah kuburan, komplek pemakaman. Tak dinyana perkenalan pertamaku dengan Mentawai langsung bertemu orang sakit dan orang meninggal. Seperti telah kuceritakan dalam artikel sebelumnya Mentawai–Pabettei, kami menyaksikan ritual pengobatan Kepala Desa Matotonan waktu itu Dominicus. Domi diobati 8 kerei, tapi sayang nyawanya tak tertolong. alasan kerei, Domi terlambat diobati, sehingga rohnya keburu nyaman di uma sabeu dan tak mau balik lagi ke tubuhnya. Maka pecahlah tangis dan ratapan dari keluarga besar Domi, terutama anak istrinya.

Bagi istrinya kematian Domi berimplikasi macam-macam. Bukan hanya membuatnya berstatus janda, tetapi juga  membuat tempatnya dalam kedua keluarga besar itu–uma suaminya dan umanya sendiri–ikut hilang. Dia harus membuat tempat tinggal sendiri, tak boleh lagi gabung dengan uma suaminya dan umanya sendiri. Bahkan anak-anaknya tak boleh dibawa, anak-anaknya menjadi hak milik uma suaminya. Begitu selesai masa berkabung istrinya harus hengkang dari uma suaminya dan tak bisa pulang ke umanya sendiri.

Itu dulu, ketika arat sabukungan (kepercayaan tradisional Mentawai) masih menjadi satu-satunya keyakinan mereka. Kini setelah agama samawi masuk, aturan seperti itu tak lagi dijalankan dengan kaku. Tapi aku tidak tahu bagaimana nasib istri Domi setelah kematian kepala desa itu, karena tak mengikuti lagi jalan ceritanya.

Tradisi menangisi Domi berlangsung beberapa hari. Mayatnya diletakkan di beranda uma dan diratapi oleh sanak keluarganya seuma. Mereka menangis berurai air mata, bahkan sampai melolong-lolong, memukul-mukul dada, menendang-nendangkan kaki dan menjambak-jambak rambut untuk menunjukkan kesedihan. Mereka juga mengelus-elus dan mengusap jasad Domi sampai membiru. Ratapan mereka sungguh memilukan, bergema jauh sampai ke seluruh pelosok desa. Tuddukat kematian juga tak henti-hentinya dipukul, nada sedihnya menambah muram suasana.

Konon dulu, ritualnya lebih ekstrim. Menurut orang-orang tua di Matotonan, juga beberapa narasumber sasareu di Muara Siberut–salah satunya orang tua Da Cap di mana aku tinggal, yang sudah lebih dari 50 tahun menetap di Muara Siberut–dulu mayat orang meninggal ditangisi di tepi sungai dekat komplek kuburan. Mayat itu diletakkan dalam perahu yang dimiringkan ke arah sungai, lalu diusap-usap dan diratapi sebagai ungkapan kesedihan.

Pengungkapan kesedihan itu bisa berlangsung berhari-hari, sampai daging mayat itu melunak lepas dari tulangnya dan tubuhnya tinggal kerangka. Setelah daging dan air tubuhnya habis dihanyutkan sungai, kerangka yang telah memutih itu dibawa ke rattei lalu diletakkan di atas pohon dan dibiarkan di sana selamanya.

Model penguburan ini mirip dengan penguburan orang-orang penganut parmalim di Batak, Trunyan di Bali dan Toraja di Sulawesi Selatan. Tapi aku tidak tahu kebenarannya. Apakah sekedar mitos saja atau memang pernah dilakukan di Mentawai. Yang Jelas ahli-ahli Mentawai seperti Prof Reimar Schefol, Gerald Persoon juga missionaris yang pernah menulis artikel tentang Kebudayaan Mentawai di Harian Haluan Padang Stefano Coronese tak pernah menyinggung hal ini dalam buku-buku dan artikel mereka. Reimar Schefold penulis buku ‘Mainan untuk Roh‘ hasil penelitiannya antropologisnya di uma Sakuddei, Desa Saggulube’ , Siberut Barat Daya, hanya menyinggung soal kirekat simamatei (tanda orang mati) dalam bukunya. Tak ada tentang penguburan.

Mengapa mayat Domi harus disemayamkan beberapa hari di uma? Ternyata ini menyangkut persiapan perjalanannya menuju uma sabeu. Siutek kerei yang memimpin ritualnya mengatakan roh Domi akan menjemput jiwa-jiwa benda miliknya untuk dibawa ke kampung abadi tersebut. Kerei dan keluarga besarnya harus mengadakan lia atau punen atau ritual lagi utuk membantunya.

Jadi di samping mayat Domi disusunlah semua barang yang dipakainya ketika masih hidup, antara lain pakaian, sepatu, sandal, tas kopor, ransel, senter, walkie talkie, pipa rokok, buku, cap kepala desa, senter, map, radio, tape recorder, surat kabar, majalah, buku-buku. gelas, cangkir, piring, termos, kopi, gula, teh, susu, tali-temali, dompet berisi uang, jas, dasi, kemeja, celana panjang, kaos oblong, T-Shirt, ikat pinggang, jaragjag, kasur, seprai, bantal, guling, sapu tangan, kaus kaki, mancis, minyak rambut, parfum, kuali, panci, periuk, bola kaki, sepatu bola, topi, sarung, singklet, celana pendek, palu, tang, gergaji, paku, linggis dan banyak lagi.

“Domi akan menjemput semua jiwa barangnya ini, biasanya dilakukan malam hari,” ujar siutek kerei. “Kita harus menunggu di tepi sungai dan mengamankan proses pengambilannya agar tak diganggu oleh para roh jahat dan sanitu (hantu),” tambah dia.

Maka beberapa malam itu para kerei berjaga-jaga dekat mayat Domi dan tumpukan harta bendanya. Mereka juga menari. bernyanyi dan makan bersama. Pada malam ketiga tiba-tiba para kerei bersikap beda. Mereka mengarungkan rebusan daging babi dan ayam ke sungai. Rebusan daging itu diletakkan di pelepah batang pisang yang telah dipotong-potong menjadi wadah untuk meletakkan potongan daging babi dan ayam rebus itu. Rakit sebesar piring tersebut dilengkapi dedaunan dan bunga, lalu siutek kerei melarungnya ke sungai sambil menyanyikan mantra.

Itu untuk mengalihkan perhatian para roh jahat dan sanitu. “Biar mereka pergi jauh mengikuti rebusan daging itu dan tak mengganggu Domi megambil jiwa barang-barangnya,” kata siutek kerei.

Setiap roh orang meninggal diyakini harus dibekali dengan semua harta miliknya dalam perjalanan ke uma sabeu. Dia harus makan minum di jalan, tidur, bersampan atau mengendarai sepeda, sepeda motor atau speedboat kalau punya semasa hidupnya dan begitu berhasil dengan selamat mencapai uma sabeu dia akan menjalani kehidupan abadi di alam baqa itu berbekal barang-barang miliknya tadi.

Memangnya dia bisa gagal ke uma sabeu.? “Bisa,” kata siutek kerei. Kalau roh jahat yang aku lupa namanya dan hantu menipunya, Domi bisa tersesat selamanya di alam peralihan dan lama-lama akan menjadi roh jahat dan sanitu pula seperti para penipunya itu. “Rohnya akan gentayangan selamanya di alam tak jelas,” kata siutek kerei lagi. Waduh!??

Tampaknya rital itu lancar dan Domi sudah berhasilmembawa semua jiwa barang-barangna, maka pada suatu pagi beberapa hari setelah malam penjemputan, mayat Domi pun diusung ke kuburan. Karena Domi beragama Katolik dia akan dikubur di rattei di bawah komando pastor atau bajak gereja. Kuburannya sudah digali di seberang sungai dan rombongan pengantar mayat pun mengular di jalan desa.

Yang ikut hanya anggota umanya. dan tentu saja anak istrinya serta orang tuanya. Keluarga besar istrinya tidak ikut, karena setelah menikah istri adalah milik uma suaminya. Anggota uma lain juga tidak ikut karena mereka tidak ingin jiwa mereka terbujuk rayuan roh Domi untuk ikut pergi ke uma sabeu. Sedangkan semua anggota umanya yang ikut mengantar di belakang rombongan pengusung mayat, sudah diberi makan secukupnya dengan rebusan keladi, pisang ditambah rebusan daging ayam atau babi sebagi lauknya.

Mereka berjalan dengan  kepala tertunduk, Hanya tangisan dan ratapan kesedihan yang terengar dari rombongan yang megenakan pakaian khusus dari daun pisang kering tersebut. Sementara suara tuddukat mendayu-dayu di kejauhan. Kalau orang Cina mengenakan baju dari kain belacu kasar, menjahitka tanda di pangkal lengan dan mengikat kepala mereka sebagai pertanda berkabung, maka angota uma Domi mengenakan pakaian dari daun pisang kering. Aku tidak tahu mengapa begitu, aku juga tak mencari tahu. Kurasa iring-iringan prosesi kematian itu sudah membuatku terpana saking khidmatnya.

Menurut Ariadi, Sabulat salah satu siripokku yang kemudian menjadi Kepala Desa Matotonan tahun 1990-an, di malam sebelum seseorang meninggal, atap rumahnya akan didatangi seekor burung hitam, lalu serombongan roh akan berbaris di halaman rumahnya. Ini bisa dilihat kalau mau. “Bila sudah terdengar bunyi burung hitam itu, keluarlah, Abang akan bisa melihat rombongan roh penjemput itu,” katanya. Aku tak pernah sempat mencobanya karena tak ada lagi kematian di Matotonan sampai aku balik ke Padang 6 bulan kemudian.

Di rattei mayat itu dikuburkan diantar doa bajak geeja, lalu di nisannya yang berbentuk salib digantungkan kuali dan barang-barang lain. Kuburan itu akan terus didatangi sampai masa berkabung usai. Lamanya kalau tidak salah 100 hari.ImageImage

Deutsch: Frauen aus dem Dorfe Katorai auf der ...

Deutsch: Frauen aus dem Dorfe Katorai auf der Insel Sibiru (Mentaweigruppe). (Photo credit: Wikipedia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s