Mentawai-Pabettei

Pertama kali ke pedalaman Mentawai tahun 1986 yakni ke Matotonan, sebuah desa dalam wilayah administratif Kecamatan Siberut Selatan, aku langsung bertemu ritual pengobatan yang disebut pabettei. Aku lupa nama orang yang sakit itu, maklum sudah hampir 30 tahun silam, tapi aku ingat dia Kepala Desa Matotonan, ah ya namanya Dominicus, tapi sukunya aku lupa.

Domi sudah lama terdeteksi sakit maag. Dia sudah berobat sampai ke Padang, tapi tak sembuh juga. Akhirnya saat dia terbaring lemah dan tak bisa lagi ke mana-mana umanya memutuskan Domi harus diobati oleh para kerei. Mengapa terakhir dilakukan? Karena Domi yang berpendangan maju hanya mau diobati oleh dokter dan dirawat di rumah sakit. Namun akhirnya dia pasrah juga pada kehendak keluarga besar di umanya, apalagi setelah tubuhnya tak bisa lagi diajak kompromi.

Dalam persepsi orang Mentawai sakit adalah indikasi bahwa roh kita tidak bahagia. Ini macam-macam penyebabnya, bisa karena roh itu merasa kurang diperhatikan atau sebab-sebab lainnya yangmengakibatkan dia mudah terbujuk rayuan roh-roh para leluhur atau kerabatnya yang sudah meninggal untuk meninggalkan tubuh kasarnya.

Terbujuk rayuan ini serius, bukan main-main. Roh kita bisa pergi dari tubuh untuk mengikuti roh yang merayunya. Rayuan itu biasanya berupa ajakan untuk menuju uma sabeu yang dikatakan penuh dengan tarian dan makanan serta keceriaan lainnya sepanjang waktu. Nah, roh orang hidup yang terbujuk rayuan dipercayai pergi meninggalkan tubuh kita sehingga tubuh tak memiliki roh lagi, cuma masih ada ikatan spritual. Tubuh yang ditinggal roh akan menjadi lemah tanpa semangat hidup yang dikenal sebagai sakit.

Untuk membuat tubuh kembali sehat roh yang pergi itu harus bisa dipanggil kembali. Dia harus dibujuk dan diyakinkan bahwa di dunia fana, tepatnya di umanya, kehidupan masih berjalan bagus. Banyak makanan, tarian dan hiburan lainnya. Bujukan ini tak bisa dilakukan manusia biasa, hanya para kereilah yang bisa melakukannya, karena kerei bisa melihat roh, memahami bahasa roh dan berkomunikasi dengan mereka. Pabettei adalah ritual yang dilakukan untuk membujuk kembali roh yang pergi dari tubuh seseorang atau ritual pengobatan.

Maka aku pun diajak menghadiri pabettei di uma Dominicus tersebut. Ritualnya malam hari. Kita akan tahu apakah ritualnya telah dimulai atau belum dari bunyi tuddukat (sejenis kentongan tapi dengan bentuk dan fungsi yang lebih rumit), gajeuma (gendang kulit ular), jejeneng (genta kuningan para kerei), bunyi rentak kaki di puturukan (lantai khusus untuk menari) pertanda para kerei sudah mulajo (menari dalam lingkaran) yang terdengar jelas membelah udara malam.

Aku yang selama di Matotonan tinggal di rumah seorang guru SD bernama Robertus Yenjeu–putra asli Malilimo, Teluk Katurai, Siberut Selatan atau,  sekarang setelah pemekaran, Kecamatan Siberut Barat Daya, yang kini menjabat kepala sekolah di Toloulago’, Teluk Katurai–berangkat bersama teman-teman dan Robertus ke uma Domi tanpa sepatu atau sandal, karena kedua alas kaki itu hanya akan mempersulit, soalnya di Matotonan hujan turun setiap hari sehingga jalan tanah liatnya sangat licin dan menyebabkan sasareu seperti aku dan kawan-kawan mudah tergelincir dan terguling-guling dari jalanan ke kolam keladi.

Kami berjalan ke arah asal suara dan cahaya terang itu berbekal senter dan obor daun kelapa. Karena dingin aku juga berbekal sarung. Kami ditemani beberapa anak muda Matotonan yang suka mengerubungi kami setiap hari, entah karena sasareunya, entah karena rokoknya, entah karena biskuit dan kopinya, yang jelas mereka selalu ada sepanjang hari di sekitar kami, bercanda dan berseloroh dari pagi ke pagi.

Di uma Domi sudah banyak orang berkumpul, mayoritas anggota umanya. Kehadiran mereka mutlak perlu untuk mendukung bujukan para kerei dengan membuktikan bahwa di umanya selalu ada keramaian dan kesenangan, lengkap dengan makanan, minuman, ubek (rokok), tarian (turu’), nyanyian (urai) dan canda tawa. Tanpa keramaian roh bisa menganggap para kerei bohong, sehingga mereka menolak pulang dan pergi untuk selamanya alias meninggal.

Ketika kami datang para kerei telah mulajo, mereka menarikan tarian burung sambil membunyikan jejeneng dan menyanyikan lagu-lagu mantra. Kaki mereka menghentak kuat ke puturukan, berderak serentak. Setelah beberapa tarian para kerei duduk bersama membedah usus ayam dan memeriksa kondisi si sakit melalui isi perut ayam tersebut. Selanjutnya mereka menari lagi dengan mangkok putih di tangan yang kemudian tahu-tahu, entah bagaimana sudah berisi darah saja.

Tarian ritual itu berlangsung sepanjang malam sampai dinihari tiba, ketika embun mulai turun membasahi tanah desa.  Selama itu para kerei menari dan menyanyikan lagu-lagu sakral tanpa banyak jeda. Anak-anak yang hadir dalam ritual itu diberi makan rebusan daging ayam, tujuannya untuk menjaga agar rohnya tidak ikut-ikutan terbujuk rayuan rombongan roh para leluhur dan kerabat yang telah meninggal yang berdatangan  dari uma sabeu ,melalui orat simagere (tangga roh yang terdapat di tengah ruangan uma) karena mendengar bunyi tuddukat, gajeuma (gendang), jejeneng, hentakan kaki dan urai (nyanyian) para kerei.

Komunikasi siutek kerei (pimpinan kerei pada ritual pengobatan itu) dengan roh yang berdatangan berlangsung saat kerei abok (trance). Kerei yang dirasuki roh tersebut akan bertingkah aneh dan bersuara lain tanpa disadarinya. Karena tubuhnya lemas dia harus dipegangi kerei lainnya saat berbicara dengan siutek kerei. Komunikasi itu sendiri lebih berupa bujuk rayu dan pembuktian dari siutek kerei kepada roh yang merasuki tubuh salah satu atau beberapa kerei yang abok– yang bisa saja adalah roh sisakit atau roh leluhur yang mewakilinya–bahwa uma si sakit penuh dengan kesenangan dan keceriaan sehingga dia tak perlu dirayu lagi agar bertahan di uma sabeu dan dibiarkanpulang ke keluarganya.

Bukti itu diperkuat dengan acara makan bersama antara para kerei dan keluarga besar atau anggota uma yang hadir. Meski bersama makanannya beda. Keluarga memakan rebusan daging ayam, para kerei memakan rebusan daging babi, karena para kerei makan bersama rombongan roh, jadi makanannya harus lebih istimewa.

Setelah makan bersama para kerei pulang membawa otcai (pembagian) daging babi dan para kerabat uma pulang membawa otcai daging ayam. Yang bukan anggota uma pulang dengan gontai, karena memang tak masuk hitungan.

English: With the Mentawai - Amam Derikogo, an...

English: With the Mentawai – Amam Derikogo, and his brother, as they divine the future using entrails. Siberut Island, Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s