Mentawai–Matotonan

Matotonan adalah salah satu desa di pedalaman Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Desa ini bisa dicapai dalam 6 – 8 jam dengan speedboat 15 PK tergantung kondisi air sungai, dalam keadaan banjir atau kering. Waktu tempuh akan lebih cepat saat banjir karena sungai menjadi dalam dan mesin bebas dari ancaman bangkai pepohonan yang banyak terdapat di dasar sungai.

Dengan pompong atau perahu bermesin 6 PK bisa 10 – 12 jam. Jika pakai sampan atau perahu yang disebut abag dalam bahasa Mentawai bisa sehari semalam, karena kita harus bermalam di jalan. Perjalanan dengan perahu atau pompong lebih cepat saat sungai dalam kondisi dangkal karena tak ada arus kuat yang akan menyeret kita kembali ke muara sungai seperti kalau sungainya sedang banjir.

Aku sudah berulang kali ke Matotonan, terutama sepanjang tahun 1986 – 1987. Aku bahkan pernah berada di sana selama 6 bulan untuk merampungkan skripsi mengenai kerei (dukun Mentawai). Orang-orang menyebutnya sikerei, tapi aku yakin kata si pada padanan kata sikerei itu hanyalah kata sandang belaka, aslinya tetap kerei, Dalam bahasa Mentawai penggunaan kata sandang si semacam ini sangat banyak.

Matotonan desa yang indah. Lokasinya yang berada dalam kerimbunan hutan tropis basah dengan perbukitan yang mengelilinginya membuat aku betah. Terutama di pagi hari, ketika aktivitas di setiap rumah dimulai. Asap mengepul dari atap rumah penduduk bersamaan dengan menipisnya kabut dari pucuk-pucuk pepohonan di perbukitan. Udaranya juga sejuk dengan banyak angin semilir dan sepoi-sepoi bertiup.

Desa itu sendiri terbagi menjadi dua bagian dengan uma Sabulat di pertengahan. Sabulat adalah suku utama di desa itu, anggotanya banyak yang menjadi kepala desa atau pengurus kemasyarakatan lainnya di Matotonan seperti guru atau bajak gereja (asisten pastor atau pendeta). Uma mereka dibangun di puncak bukit dengan view 360 derajat ke seluruh penjuru desa.

Uma adalah sebutan untuk rumah adat orang Mentawai. Berupa rumah panggung besar dengan dua kamar utama di bagian belakangny, tempat rimata (kepala siku) dan angota senior uma lainnya tinglal bersama isti dan anak-anak mereka. Anggota uma lainnya tinggal dalam beberapa kelambu di ruang tengah yang sekaligus menjadi dapur dan tempat berbagai upacara adat (ritual) diselenggarakan. Di ruang tengah ini pula semua anggota uma berkumpul dan memusyawarahkan berbagai masalah pada waktu-waktu tertentu. Di ruangan ini pula hubungan dengan para leluhur yang tinggal di uma sabeu (kampung abadi di akhirat) dan roh semua benda dilangsungkan.

Antara ruang tengah dan beranda ada yang namanya puturukat, yaitu lantai khusus untuk melakukan turu’ (tarian adat). Papan-papan di lantai ini tak diikat atau dipakukan ke konstruksi dasar uma. Hal itu disengaja untuk mendapatkan efek  bunyi gemuruh dari hentakan kaki saat para kerei menari.

Di bagian depan uma ada beranda dengan bangku panjang di mana anggota uma duduk bercengkerama memelihara silaturahmi di pagi atau malam hari. Di depannya lagi ada teras terbuka dengan tangga dari balok kayu ditakik sebagai penghubung penghuni uma dengan dunia di luar mereka.

Uma juga digunakan untuk menyebut sulu seseorang dan karena dulu di satu kampung sering hanya terdapat satu uma, maka uma sering pula dipakai untuk menyebut nama kampung seseorang.

Di Matotanan ada beberapa uma, antara lain uma Siritoitet. Kalau uma sabulat siripokku maka uma Siritoitet sarainaku. Siripok itu orang yang sudah dianggap saudara, saraina lebih dari saudara karena sudah diangap satu ibu. Ini kebiasaan orang Mentawai untuk menunjukkan kedekatannya dengan seseorang, sesama orang Mentawai atau sasareu (orang asing). Tapi aku tak begitu yakin dengan pengakuan itu karena tidak dikukuhkan dengan ritual adat, jadi aku nimati saja kedekatanku dengan orang-orang Matotonan yang rata-rata memang menyenangkan dan lucu-lucu. Mereka sangta humoris dan suka bercanda.

Aku lupa jumlah penduduk Matotonan, kalau tidak salah  200 KK atau 450 jiwa. Mereka membangun bagian kampung yang bagus berupa deretan pemukiman yang dibuat menyerupai rumah-rumah resettlemen di Puro, Muntei dan Mailepet, kampung-kampung di sekitar pusat Kecamatan Siberut Selatan. Bedanya rumah-rumah itu dibuat sesuai dengan keinginan mereka, bukan keinginan pemerintah.

Jadi rumah itu tetap berupa miniatur uma dengan atap rumbia (tobat) atau daun sagu di atasnya, bukan lembarran seng yang panas. seperti di resettlement. Untuk diketahui orang Mentawai di Matotonan menyebut rumah-rumah resettlement di Puro, Muntei, dan Maileppet itu peti mati, karena kecilnya dan tak punya beranda. “Tak kuobak (tak mau) aku) tinggal dalam peti mati,” begitu komentar merela tentang rumah-rumah buatan pemerintah itu.

Rumah-rumah buatan mereka di Matotonan juga kecil, tapi bentuknya menyerupai uma dengan beranda tempat duduk-duduk bercengkara di bagian depan. Rumah-rumah ini juga dekat dengan uma induk mereka, di mana berbagai pesta dan ritual adat diselenggarakan. Namun karena rumah orang Mentawai yang sebenarnya terletak di ladang (mone) maka seperti desa-desa lainnya di Mentawai Matotonan hanya ramai pada Sabtu sore dan Minggu, ketika mereka keluar dengan tubuh dibalut baju-baju indah, sarat dengan harum wewangian dan lindungan payung aneka warna menuju gereja. Senin sampai Jumat desa itu tak ubahnya desa mati. Hanya anak-anak yang berada di desa karena mereka harus bersekolah. Orang tua mereka menghabiskan lebih banyak waktu di sapou saina (kandang babi) bersama adik-adik mereka yang masih kecil.

Di sapou saina terdapat kebun sagu, duria, mangga, duku, rambutan, kelapa, juga kandang babi dan ayam, kini ditambah kambing dan sapi. Memang pada dasarnya orang Mentawai bukan petani. Mereka peramu. Mereka tidak menanam dan merawat tanaman mereka, melainkan hanya memakannya di sana lalu membuang bijinya yang kemudian tumbuh menjadi harta mereka secara turun temurun. Sementara sagu tumbuh di mana saja dan langsung menjadi milik siapa saja yang mebnguasai ulayat tersebut.

Dalam desa ada juga tanaman kelapa, keladi, pisang durian, mangga dan sagu, tapi hanya keladi yang ditanam dan dirawat. Mereka memang takkan pernah kelaparan karena memiliki banyak makanan pokok seperti sagu, keladi, pisang, durian. Sekarang bahkan sudah banyak pula yang menanam ubi kayu dan ubi jalar yang membuat ketahanan pangan mereka baik sekali.

An Uma, the traditional communal house of the ...

An Uma, the traditional communal house of the Mentawai (Photo credit: Wikipedia)

ImageImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s