Mentawai–Perkenalan

An Uma, the traditional communal house of the ...

An Uma, the traditional communal house of the Mentawai (Photo credit: Wikipedia)

Aku mengenal Mentawai tahun1986 ketika membantu temanku Ermayanti (Ee) menyusun skripsinya. Sejak itu aku tak pernah lepas lagi dari kepulauan yang eksotis ini. Tapi yang kusukai bukan sisi eksotisnya, karena sebagai penyuka antropologi aku cukup paham bahwa kebudayaan itu dinamis, bukan statis, jadi aspek eksotisnya mungkin cukup di landscapenya saja, seperti ombaknya yang membuat banyak surfer dunia tergila-gila.

Namun, walau suka memotret keindahan pantai-pantainya, sejujurnya aku tak suka laut. Memang aku suka pantai, tapi aku tak suka laut. Yang kusuka dari laut hanyalah apa yang bisa kumakan saja, misalnya ikan tongkol, kerapu, bawal, tandeman, cumi-cumi, udang, kerang, gurita kecil dan sejenisnya yang tak akan mau kumakan yaitu lumba-lumba, karena aku benar-benar suka sama ikan yang satu ini. Yang tak kusuka dari laut jauh lebih banyak, antara lain  hiu, baracuda, ubur-ubur api, paus pembunuh, ular laut dan teman-teman mereka.

Meski tak suka laut, aku ke Mentawai pertama kali tahun 1986–waktu itu ke Siberut Selatan–malah menumpang kapal penangkap ikan yang disebut juga kapal tonda. Kapal berukuran (4 X 3 X 3 meter) itu lumayan ringkih untuk jadi mainan ombak dan gelombang Selat Mentawai, buktinya kapal itu sempat terseret arus ke perairan Bengkulu dan sepanjang perjalanan ayunan gelombang membuatnya teombang-ambing ke kiri kanan sehingga air masuk terus ke deknya.  Tapi karena masih bodoh dan tak tahu bahayanya andai kapal itu pecah dan tenggelam, aku senang-senang saja menikmati penderitaan.

Intestines inspection (Indonesia Siberut)

Intestines inspection (Indonesia Siberut) (Photo credit: Ahron de Leeuw)

Apalagi aku bukanlah orang yang gampang mabuk. Aku hanya heran ketika kami sampai di Muara Siberut–pusat Kecamatan Siberut Selatan–25 jam kemudian, orang-orang melihat kami seperti melihat zombie. Mereka bingung kami masih hidup.

Jadi aku memang tak suka laut, tapi kalau mau ke Mentawai mau tidak mau kita harus melewati laut, melayarinya atau terbang di atasnya. Sebagai penyuka gunung, sungai, hutan, perbukitan, air terjun, prairie tujuanku ke Mentawai adalah ke pedalaman Siberut Selatan. Tepatnya ke Matotonan. Karena di situlah lokasi penelitian kami. Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s