Mentawai-Ke Pedalaman

A river on Siberut island in Indonesia.

A river on Siberut island in Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Smoking Mentawai Shaman

Smoking Mentawai Shaman (Photo credit: fanz)

Tahun 1986 itu publikasi tentang Mentawai belum begitu banyak. Itu sebabnya mengapa harian Singgalang–surat kabar lokal di Padangsenang sekali memuat laporanku dari pedalaman Siberut Selatan. Artikelku tentang Mentawai muncul setengah halaman koran setiap hari Minggu dan semuanya bikin gondok Camat Siberut Selatan yang waktu itu komandannya masih Bupati KDH Kabupaten Padang Pariaman karena wilayahnya secara administratif masuk Kabupaten Padang Pariaman. Ya, bukan apa-apa, tahulah kalau aku menulis🙂, apa yang terlihat, apa yang kudapat itulah yang kutulis. Akibatnya camat gerah, karena tulisanku tak sesuai dengan policy mereka. Tapi peduli amatlah, aku kan bukan anak buah mereka, bukan pula PR (humas) mereka.

Tulisanku tentang Mentawai juga dimuat berbagai media nasional seperti majalah Voice of Nature, Femina, Famili, Rona Alam & Lingkungan, Travel Club, harian Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, tabloid Mutiara, Warta Pramuka, Citra dan banyak lagi.

Matotonan merupakan desa terujung di Siberut Selatan. Desa lainnya yang terjauh, tapi tak sejalur dengan Matotonan adalah Salappa. Jalur Muara Siberut – Matotonan berturut-turut adalah Puro 1, Puro 2, Muntei, Rogdog, Madobag dan Matotonan. Waktu itu belum ada pompong–perahu bermesin tempel dengan kekuatan 6 PK–yang sekarang banyak digunakan. Jadi kami ke Matotonan dengan speedboat bermesin 15 PK–sebenarnya aku lupa 15, 25 atau 40 PK?–yang untuk perjalanan pertama tesebut dimungkinkan karena air sungai besar yang mereka sebut badoinan sedang eba atau banjir. Di musim kering ke pedalaman menggunakan speedboat tak dimungkinkan, karena sungai mendangkal dan dipenuhi bangkai pepohonan. Alih-alih naik speedboat, bisa-bisa speedboat yang lebih sering naik kita, karena harus digotong melewati rintangan sungai dangkal atau batang-batang kayu yang melintang di tengah sungai.

Kenapa mahasiswa miskin seperti aku bisa sampai ke pedalaman Mentawai dengan speedboat pula? Ada ceritanya. Itu semua karena Zamzami dan Godok. Zamzami teman dekat adik kelasku Syaiful Anas (alm) adalah sepupu Godok. Dan Godok adalah adik Syafruddin atau Da Cap, kontraktor terkenal di Mentawai waktu itu. Kami anak-anak Antropologi Universitas Andalas menjadi tamu Da Cap selama di Mentawai. Kami menginap, makan dan mandi di rumahnya. Aku bahkan mendapat keistimewaan lebih, bisa ikut Da Cap dan Godok–yang kini memiliki toko swalayan terbesar di Muara Siberut–ke lokasi-lokasi proyek mereka seperti ke Toloulago’, Saurausau, Malilimo’, Muntei dan Saliguma.  Termasuk saat ke Matotonan, aku dibolehkan menggunakan speedboat Da Cap dengan Godok langsung sebagai operatornya. Coba kalau tidak, aku harus bayar mahal untuk speedboat, bensin, juga upah, makan dan rokok operator boat untuk perjalanan 6 – 8 jam ditambah bermalam 6 -7 hari di lokasi tersebut.

Saat pertama speedboat kami menuju Matotonan, aku yang pernah menonton Deer Hunter dan Platoon mendapat sensasi lain ketika kami melewati Puro dan Muntei. Benar-benar serasa di Vietnam, tapi tanpa hujan mortir, bombardir peluru dan bom napalm. Karena rimbunan gelagah serta deretan pohon kelapa di tepi sungainya itu benar-benar memberi sensasi lain.

Makin jauh ke pedalaman makin banyak terasa nuansa Mentawai itu. Kalau di Puro dan Muntei orang Mentawai tampil seperti orang kebanyakan saja, meski mereka masih bisa dikenali dari tatto yang tersingkap di lengan, leher atau wajah mereka yang tak tertutup baju, namun di bagian hulu badoinan mereka tampil apa adanya, tanpa baju dan hanya mengenakan kabid-cawat dari kulit kayu–atau kain yang dililitkan ke pinggang. Tatto mereka yang khas itu terlihat lebih jelas, terutama di bagian dada dan perut.

Bagi orang Mentawai tatto adalah pakaian abadi, untuk di dunia fana ini dan di uma sabeu–uma besar, kampung abadi di alam baqa–kelak. Makanya mereka merasa aneh disuruh pemerintah pakai baju. “Orang kami sudah punya baju kok disuruh pakai baju lagi? Baju kami bahkan lebih hebat, tak cuma untuk dikenakan di dunia ini,” gerutu mereka dalam bahasa Mentawai yang tak bisa kutirukan di sini. Aku memang agak lambat menguasai bahasa, karena belum dapat rahasia fonetik dan linguistik yang biasanya menjadi keahlian anak-anak Antropologi yang belajar Ethnolinguistic. Dengan ilmu ini mereka bisa menguasai bahasa mana saja dalam 2 minggu!

Dalam perjalanan ke hulu sungai itu pula kami banyak berpapasan dengan orang-orang Mentawai yang sedang menuju Muara Siberut untuk menukar hasil kebun mereka seperti pisang (magok), kelapa (toitet), keladi (gette), juga hasil hutan seperti rotan dan manau dengan berbagai kebutuhan baru mereka yakni kopi, teh. susu, gula, minyak goreng, garam, cabe, bawang, tomat, pakaian, sandal, sepatu, tas, topi dan terutama sekali rokok (ubek).

Mereka memang perokok kelas berat. Kalau tak mampu beli rokok mereka akan mencacah daun keladi, menjemurnya sampai kering, lalu melintingnya dengan papir dari pucuk daun kelapa. Bukan hal aneh kalau kita menemukan lelaki Mentawai yang bicara dengan rokok sebesar jempol terselip di mulutnya atau perempuan Mentawai yang mengisap rokok yang lebih kecil dengan santainya. Yang justru aneh adalah kalau Anda tak melihat mereka merokok sama sekali. Bahkan di kalangan turis sudah terkenal ungkapan “anai ubek anai foto, tak anai ubek tak anai foto” (ada rokok boleh ngambil foto, tak ada rokok jangan coba-coba memotret

Mentawai jungle house (Indonesia)

Mentawai jungle house (Indonesia) (Photo credit: Ahron de Leeuw)

mereka).ImageImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s