Mentawai–Pasigirit Abag

Abag atau sampan (perahu) merupakan sarana transportasi penting di Mentawai, terutama dulu ketika jalan darat belum banyak dibuat seperti sekarang. Saking pentingnya bisa dikatakan hampir semua orang punya sampan sendiri, kecuali anak-anak. ImageSampan itu dibutuhkan sebagai sarana transportasi dari desa ke sapou saina (kandang babi), mone (ladang), rattei (kuburan), mencari iba (ikan) atau lokan di sungai atau bahkan berbelanja atau berobat ke pusat kecamatan. Tanpa sampan semua urusan sehari-hari akan sulit dilakukan, karena itu sampan sangat berarti bagi orang Mentawai. Mereka bisa marah besar kalau sampannya dirusak, tulou (denda)-nya akan sangat besar.

ImageSelain fungsinya yang sangat vital, sampan juga susah dibuat. Sampan Mentawai bukanlah papan yang disusun-susun begitu saja, tapi dibuat dari sebatang kayu utuh yang diambil jauh ke tengah hutan. Selama di Matotonan aku beberapa kali ikut orang Sabulat dan Siritoitet membuat sampan. Medannya berat setengah mampus karena kayunya benar-benar pilihan dan tidak boleh sembarangan pula mengambilnya.

Sebelum membuat sampan, yang punya hajat harus mengatur perburuan dulu, untuk minta izin Taikaleleu mengambil kayunya. Saat itu dia sudah berpantang mandi, berpantang melakukan hubungan seksual, berpantang memakan makanan tertentu. Dia harus menunjukkan kesungguhan hatinya untuk membuat sampan itu agar Taikaleleu senang menyerahkan pohonnya.

Hebatnya membuat sampan itu harus sendirian. Orang seumanya atau sinuru’ hanya boleh membantu hal-hal lain, misalnya mengantar dia ke tepi hutan, membantu memasak untuk makan bersama, dan membantu menarik sampan itu ke sungai kalau sudah jadi. Di luar itu tidak boleh. Sampan harus dibuatnya sendiri.

Setelah perburuan dan proses minta izin Taikaleleu selesai, pergilah dia masuk hutan sendirian dengan membawa rebusan daging babi dan ayam untuk diserahkan ke roh-roh yang ada di hutan, termasuk roh kayu yang dipilihnya untuk dijadikan sampan.

Namun prosedurnya tak sesederhana itu. Jika pohon itu menunjukkan tanda tak ingin dipakai, biasanya ditandai dengan kehadiran sejenis burung yang saya lupa namanya, maka si empunya hajat harus mengurungkan niatnya mengolah pohon itu. Dia harus mencari kayu yang lain lagi. Begitu terus sampai dia menemukan kayu yang cocok dan mengizinkan dirinya dijadikan sampan, sekaligus mendapat restu dari pohon itu sendiri dan roh penguasa hutan (Taikaleleu).

Jadi benar-benar tidak sembarangan. Di sini terlihat betapa arifnya orang Mentawai mengelola hutan. Mereka sangat sadar bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga keselamatan diri sendiri, keluarga dan orang sekampungnya.

Jika kayu sudah didapat, dia akan membuat tenda darurat di situ dengan kayu dan daun sagu atau dedaunan lain yang bisa digunakan untuk atap. Setelah akomodasi siap, mulailah dia menebang pohon tersebut. Ini bisa makan waktu 2 – 3 hari, karena kayu yang digunakan untuk sampan harus besar, paling tidak diameternya 1 meteran. Dan mereka hanya menggunakan kapak, bukan chainsaw. Sekarang sudah banyak yang pakai chainsaw, mereka bahkan tak perlu lagi membuat sampan sendiri karena sudah banyak yang menjual sampan dan boat.

Setelah pohon tumbang, selanjutnya proses mengolah batang pohon itu menjadi sampan. Mereka menggunakan beliung untuk mengeruk  bagian tengah batang tersebut dengan perhitungan matang, karena mereka hanya mengunakan feeling, intuisi, bukan alat-alat ukur modern untuk mendapatkan akurasi dan presisi yang tepat, agar sampan yang dibuat sempurna keseimbangannya dan pas aerodinamikanya.

Proses ini bisa makan waktu berminggu-minggu, bahkan sebulan. Selama itu istri dan anggota umanya setiap hari bergantian mengantarkan makanan dan minuman untuk konsumsinya.

Setelah sampa selesai dibuat, dia akan mengundang lagi para sinuru’ dan kerei untuk makan bersama, sekaligus menurunkan sampan itu ke sungai untuk dibawa ke desa. Nah di sini suasananya agak heboh, karena mereka harus menebang banyak pohon kecil untuk digunakan sebagai jalan sampan tersebut. Apa ya namanya landasan kayu untuk jalan sampan itu? lupa aku. Lokot atau apa gitu….?

Mengapa kubilang heboh? Karena sepanjang jalan dari lereng bukit ke sungai, para sinuru’ itu berteriak-teriak sambil mendorong sampan baru itu bersama-sama. ‘Kawa..kawa..tilei! Kawa…kawa…tilei!” Begitu beruiang-ulang. Heboh sekali, apalagi mereka terus saja bercanda dan ketawa-ketiwi sambil mendorong. Sayang aku tak punya lagi dokumentasinya, padahal dokumentasi itu sangat penting, terutama sekarang ketika orang Mentawai tak repot lagi bikin sampan. Jual coklat, jual cengkeh, jual nilam, jual rotan, jual manau, jual kelapa sudah bisa beli sampan. Tata caranya juga sudah tak diikuti lagi, karena mereka telah melihat bagaimana sasareu (orang sasing) menebas hutan seenaknya dan ternyata mereka baik-baik saja. Tidak sakit atau celaka.

Sampai di sungai sampan itu tak boleh dinaiki. Dia harus ditarik dengan sampan lain menuju uma di kampung dan diistirahatkan. Selanjutnya dilakukan lianabag. Ritual untuk meresmikan sampan baru. Seperti biasa ada tarian, makan bersama, nyanyian kerei dan semacamnya. Bedanya kali ini kerei akan melakukan ritual pasibitbit sikatai’ dan pasibitbit simaeru’, yaitu upacara pengusiran roh jahat dan pemanggilan roh baik. Ada mantra khususnya di sini, saya tak ingat lagi. Catatannya juga sudah lama hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s